Foto saya
Sekretariat;
Jl. Bonang No.1A,Menteng
Jakarta Pusat 10320
Tlp : 021 31931181 / 021 44553543
Fax : 021 3913473
E-mail: Jrki@cbn.net.id
Tampilkan postingan dengan label Berita Penggusuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Penggusuran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2009

Puluhan rumah kardus di sepajang rel kereta api dekat Stasiun Tanah Abang, digusur





Puluhan rumah kardus di sepajang rel kereta api dekat Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat ditertibkan Satpol PP, Senin (19/5/2009). Puluhan bangunan liar ini ditertibkan dengan cara dibakar.
Dibantu petugas dari kepolisian, Satpol PP menggusur rumah yang menjalar di pemukiman sepanjang 300 meter.

(Detiknews.com)




Read More......

Kamis, 26 Februari 2009

Kompleks Dwikora Cimanggis Diserang TNI AU


Selasa, 17 Februari 2009
Okezone.com

DEPOK - Polemik TNI Angkatan Udara dan warga Kompleks Dwikora, Cilangkap, Cimanggis, Depok, berujung penyerangan sejumlah tentara AU bersenjata lengkap ke kompleks yang berlokasi di Jalan Raya Bogor, Selasa (17/2/2009).

Penyerangan terjadi sekira pukul 01.30 WIB, membuat suasana di dalam kompleks memanas. Salah seorang ibu yang berhasil keluar dari dalam kompleks mengatakan, situasi di dalam kompleks sungguh menegangkan. Kabarnya, ada beberapa penghuni yang dipaksa keluar, bahkan diseret-seret.

Sebut saja Elsye, wanita berusia 40 tahun ini telah berpuluh-puluh tahun menghuni kompleks Dwikora. Dia mengungkapkan, ada beberapa warga yang terluka akibat penyerangan di tengah malam buta tersebut.

Sebelumnya, warga telah berjaga di depan pintu kompleks untuk menghalau kedatangan aparat TNI AU. Namun, serangan membabi buta di pagi hari menyebabkan warga terisolasi di dalam dan tidak ada yang keluar. (RCTI/RCTI/nov) Read More......

Sengketa Perumahan Dwikora Kembali Memanas

Senin, 9 Februari 2009 Okezone

DEPOK - Polemik TNI AU dan warga Kompleks Dwikora, Cilangkap, Cimanggis, Depok, yang dihuni para purnawirawan dari kesatuan tersebut terus berlanjut dan kembali memanas.

Pasalnya, warga yang tinggal di 144 rumah itu kembali bersiaga untuk menghalau kabar datangnya pasukan TNI AU yang akan mendirikan tenda di sekitar perumahan menyusul kabar eksekusi pengosongan.

Rencana TNI AU tersebut kontan mendapat penentangan warga yang sejak semula menolak eksekusi pengosongan. Menurut warga, ada sejumlah alasan kenapa menolak TNI AU mendirikan tenda penjagaan di sekitar Kompleks Dwikora.

Ketua RW 06 Kompleks Dwikora Syarkie Puteh mengatakan, warga menolak penjagaan karena perumahan tersebut bukan merupakan kesatriaan aktif,
tidak ada aset yang perlu dijaga, dan tidak ada perseteruan antara warga yang aktif dengan purnawirawan.

"Permasalahan warga Dwikora dengan TNI AU masih dalam proses hukum dan saat ini sudah masuk Mahkamah Agung," ujar Syarkie Puteh di Depok, Senin (9/2/2009).

Dia menjelaskan penempatan pasukan TNI di lingkungan Dwikora adalah tindakan intimidasi terhadap warga yang tidak pantas dilakukan di era reformasi sekarang ini. Di Kompleks Dwikora terdapat 144 rumah, dimana 80 persen atau 92 rumah adalah purnawirawan dan 10 persen masih anggota aktif TNI AU.

"Sudah dua tahun terakhir kasus Dwikora ramai diberitakan di media massa akan ada eksekusi pengosongan, namun mendapat perlawanan dari warga," imbuh Syarkie Puteh.

Perjuangan warga menolak ekeskusi ini sudah sampai ke meja Komisi I DPR dan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia. Bahkan warga juga sudah melapor ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Alasan warga bertahan di Kompleks Dwikora karena mengacu pada Undang-Undang Nomor 72 Tahun 1957 yang menjamin pegawai negeri sipil dapat membeli rumah negara. Dengan demikian, purnawiran TNI AU yang sudah menempati rumah dinas tersebut puluhan tahun dapat membeli rumah itu.

Tuntutan penolakan eksekusi juga terlihat dari penjagaan warga yang memblokade setiap masuknya pasukan TNI AU dan banyaknya spanduk yang di pasang di sekitaran perumahan. (ram) Read More......

Rabu, 25 Februari 2009

210 Rumah Dibongkar Pagi Ini


VIVAnews - Rabu, 11 Februari 2009
Pagi ini, Petugas Satuan Polisi Pamong Praja Walikota Jakarta Barat akan membongkar sedikitnya 210 bangunan liar di bantaran kali Duri, Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat.

Pembongkaran dilakukan karena bangunan liar yang berada di RT 8, RW 10, membuat Kali Duri mengalami penyempitan dan pecemaran dikawasan tersebut juga sudah mengkhawatirkan.

Rencananya pembongkaran akan dilakukan pada pukul 09.00 WIB. Namun sejak kemarin warga mulai membongkar sendiri bangunan rumah mereka sebelum pembongkar hari ini.

"Kawasan ini akan jadi percontohan," ujar Walikota Jakarta Barat, Djoko Ramadhan.

Beberapa waktu lalu walikota sudah menginstruksikan kepada Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air untuk segera bertindak dengan melakukan pembongkaran.
• VIVAnews Read More......

Selasa, 24 Februari 2009

Menggusur yang Masih Hidup, Memindahkan yang Sudah Mati


Kamis, 5 Februari 2009

kompas.com

JAKARTA, KAMIS - Warga ibukota mungkin sudah kenyang melihat adegan baku hantam antara warga pemukiman padat ataupun pedagang dengan petugas Satpol PP, saat tempat mereka berdiam dan mencari makam terkena gusuran. Miris, tapi bisa apa? Penggusuran, pemindahan, relokasi, atau apapun namanya, ternyata tak hanya dialami mereka yang masih hidup. Mereka yang sudah tenang di alam baka pun, harus merelakan tulang belulangnya dipindahkan, entah dalam keadaan utuh atau tidak.

Ghazali, petugas kebersihan makam TPU Menteng Pulo, Jakarta, juga menyimpan keprihatinan. Meski sebagian besar ahli waris makam sudah disosialisasikan mengenai pemindahan makam keluarganya, masih ada saja yang harus mengurut dada.

"Masih ada juga ternyata yang belum tahu. Saya kasihan juga liatnya. Mau gimana lagi?" kata Ghazali kepada Kompas.com, Kamis (5/2). Ia pun mengantarkan Kompas.com melihat areal makam yang sudah dipindahkan.

Lebarnya sekitar 25 meter. "Nggak tahu tu buat apa. Tapi ya, kita cuma bisa gigit jari. Orang kalo punya duit kan bisa beli apa aja, termasuk lahan kuburan," ujar bapak tiga anak ini.

Menurut Ghazali, sekitar 3570 makam yang dipindahkan tersebut, sebagian besar memang makam kuno alias makam-makam lama yang jarang dikunjungi keluarganya. Namun, tak sedikit pula makam-makam baru yang bernasib sama.

Ali Fahmi, dari seksi areal Sudin Pemakaman Jakarta Selatan mengatakan, yang dilakukan terhadap ribuan makam itu bukan penggusuran. "Hanya memindahkan, kita tawarkan beberapa lokasi di TPU masih di Jakarta Selatan, atau terserah keluarga mau dipindah kemana," kata Ali.

Selama dua hari Ali nongkrong di TPU di bilangan Casablanca itu. Kata dia, pihaknya masih melakukan upaya sosialisasi mengenai makam di bagian mana saja yang dipindahkan. Hingga hari ini, sekitar 1400-an makam sudah dibongkar. Untuk apa area bekas kuburan itu?

"Wah, kalau itu diluar kewenangan saya. Saya tidak tahu," ujarnya. Ia pun tak bisa memberikan jawaban, saat ditanya kemungkinan pemindahan akan meluas ke blok lainnya.

Area makam yang dipindahkan, lebar 25 meter dan panjang 750 meter dari Casablanca hingga Imperium Rasuna Said. Pemindahan pun belum dapat dipastikan akan berlangsung sampai kapan.

Gusurlah yang Lain, Jangan Kuburan...

Entah didengar atau tidak, inilah curahan hati ahli waris yang keluarganya dimakamkan di Menteng Pulo. Marni mengaku ngenes begitu mendengar kabar pemindahan sejumlah makam di TPU tempat ibunya dimakamkan. Meski makam sang ibu aman, ia tak habis pikir dengan keputusan memindahkan ribuan makam.

"Mau dibuat apa sih? Bekas makam kok ya diincer juga. Kalo mau yang lain lah, jangan kuburan," katanya saat ditemui tengah berziarah dimakam ibunya.

Makam, menurut dia, juga merupakan daerah resapan yang menjaga ibukota dari dampak banjir yang lebih parah. "Saya berharap, mudah-mudahan jangan ada gusuran makam lagi. Tar kualat, Jakarta tenggelam karena resapannya habis," ujar Marni.

Inggried Dwi Wedhaswary

Read More......