Foto saya
Sekretariat;
Jl. Bonang No.1A,Menteng
Jakarta Pusat 10320
Tlp : 021 31931181 / 021 44553543
Fax : 021 3913473
E-mail: Jrki@cbn.net.id
Tampilkan postingan dengan label Catatan dari Bonang 1 A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan dari Bonang 1 A. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2009

MUNIR Antara Perjuangan HAM dan Kaos Oblong

Doc.KASUM

“Mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, tapi kemudian bersembunyi di balik keteng kekuasaan....
Apakah akan kita biarkan orang-orang itu tetap gagah..??
Mereka harus bertanggung jawab, sampai detik manapun..!!”

Itu adalah sekelumit dari orasi Munir Said Thalib, sebelum beberapa minggu dia meninggal.
Hingga tahun ke lima kematiannya, sampai saat ini masih menyisakan misteri.

Kenapa, mengapa, alasan apa, seorang Munir kemudian mati secara mendadak, dan kemudian diketahui bahwa kematianya disebabkan oleh racun Arsenic dalam kadar tinggi.
Yang kemudian diketahui belakangan, bahwa kematian Munir sengaja atau direncanakan oleh berbagai pihak yang tidak senang atas aktivitasnya.

Untuk masalah kemudian Munir dibunuh karena aktivitasnya sebagain banyak mungkin sudah mengetahuinya, hanya ada hal yang menarik dari fenomena icon semisal Munir ini. Ketika beberapa minggu lalu saya melihat gambar wajah Munir terpampang dalam sablonan kaos di sebuah FO yang cukup besar di Bandung, lengkap dengan alat patung peraga yang didandani ala model.

Saya jadi teringat dengan icon Ernesto Che Guevara tokoh Revolusioner legendaris abad XX. Dia jadi icon revolusi yang potretnya melekat di kaos oblong, poster, pin, dan aksesori lainnya. Kalimat "Hasta la victoria siempre!" yang ditulisnya kepada Castro saat meninggalkan Kuba telah menjadi salam heroik anak-anak muda.
Ada pengalaman lucu, ketika suatu saat saya menghadiri pagelaran musik Underground di Bandung, ketika salah satu kelompok musik tampil dan beberapa personelnya memakai kaos bergambar Che Guevara, teman saya bertanya ”Che Guevara itu, vokalis band apa ya..?”

Begitupun dengan gambar Munir, ada yang pernah bertanya ”itu fotonya Ucok ya..??” (Ucok adalah Vokalis Band HipHop Underground ”Homicide” yang melegenda dan Cukup kontroversial di Bandung)
Karena Band ini pernah membuat aksesoris yang bergambar Munir, juga beberapa karyanya yang memang diperuntukkan untuk almarhum Munir.

Ada kecenderungan sepertinya ketika Ikon-ikon dipakai dan otomatis si pemakai merasa dirinya menyatu dengan Ikon yang dipakainya.
Tanpa Sadar si pemakai telah masuk ”perangkap” tak-tik marketing dari si produsen, yang mungkin berlawanan dengan esensi dari Ikon yang dipakainya.
Bukan berarti di sini saya mau mengatakan, jangan memakai ikon-ikon semisal Che Guevara ataupun Munir.

Hanya sungguh sayang ketika memakai Ikon tadi kita lupa esensi dari orientasi perjuangannya itu sendiri.
Kalau kita berbicara tentang seorang Munir, juga tidak bisa dilepaskan berbicara tentang apa yang pernah ia perjuangkan semasa hidupnya, perjungan tentang penegakan Hak Asasi Manusia.

Sampai saat dia meninggal, ada beberapa kasus yang masih menjadi PR bagi penegakan Hak Asasi Manusia di Negeri ini.
Kaitannya dengan bagaimana Munir mencoba membongkar pelanggaran HAM masa lalu, seperti kasus 65, Tanjung Priok, Talangsari, Penembakan Misterius, dll.
Atas keberanian dia bersikap membongkar kasus-kasus itu ditengah masih kuatnya Militeisme di negeri ini tidak ayal banyak teror-teror yang dia terima.
Dari pengklaiman seorang Yahudi, atau seorang Komunis sekalipun.

Kembali tadi tentang masalah Hak Asasi Manusia, Tentu kalau kita juga berbicara masalah Hak Asasi Manusia, adalah masalah Universal, yaitu hak-hak kodrati setiap manusia.
Seperti hak untuk hidup layak, hak untuk tidak mendapatkan penyiksaan, hak untuk tidak terdiskriminasi, dll.

Terlau panjang mungkin ketika harus memaparkan tentang sejarah Hak Asasi Manusia itu sendiri, tapi setidaknya deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10 Desember 1948, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat manusia setelah dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman yang dilakukan negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makna ganda, baik ke luar (antar negara-negara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa), berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan di negara-negaranya masing-masing.

Makna ke luar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa, agar terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan makna ke dalam, mengandung pengertian bahwa Deklarasi HAM sedunia itu harus senantiasa menjadi ”pengayom” untuk rakyat dari masing-masing negara dalam menilai setiap kebijakan yang dikelauarkan oleh pemerintahnya.
Mungkin itu pandangan yang terlalu umum ”Eropa/Amerika” sentris.

Bagaiamana kita juga bisa melihat bahwa pada dasarnya Hak Asasi Manusia juga menjadi pedoman dari setiap agama yang ada.
Kita mengenal konsep Islam dengan Rahmatallilalamin(rahmat untuk semua alam), atau konsep Katolik dengan kasih sayangnya, ada lagi Budha dengan Welas asihnya, dll
Apa yang dilakukan Munir saat itu juga tidak jauh dari apa yang diuraikan diatas, dia mencoba membongkar kejahatan militeristik di Negeri ini yang selalu berlindung di balik tameng kekuasaan.

Pertanyaanya kemudian adalah, apakah menjadi semacam pembenaran ketika membunuh, menyiksa, menculik sah dilakukan kalau atas nama Negara?
Bukankah pemaksaan Ideologi Tunggal juga bagian dari pelanggaran Hak Asasi Manusia?
Bukankah munculnya kiri dan kanan pasti akan selalu terjadi dalam ranah politik di Negeri ini?

Bukankah Hak Asasi Manusia bukan milik dominasi gerakan kiri ataupun kanan?
Bukankah pelanggaran Hak Asasi manusia juga dilakukan oleh gerakan kiri dan kanan di negeri ini?

Bukankah sejarah negeri ini sampai sekarang, adalah sejarah pelanggaran Hak Asasi Manusia, siapapun rezimnya?
Dan, siapa yang bisa membantah itu...????

Bukankah, perjuangan Hak Asasi Manusia tidak akan berhenti, hanya karena Munir mati..???

Alih-alih perjuangan HAM seperti sudah dilakukan, ketika memakai icon Munir di kaos oblong ataupun mengutip pernyataan Munir, takut-takut hanya akan berhenti pada simbolisasi, lebih parah menjadi mitos.
Kalau itu yang terjadi, kita kalah untuk kesekian kali.

Salam....


Husni K Efendi
(Humas Internal JRK)

Read More......

Kamis, 18 Juni 2009

Selepas Bapakku Hilang


Selasa malam lalu 16 Juni 2009, di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, diselenggrakan “Malam peluncuran buku kumpulan puisi Selepas Bapakku Hilang” lantas bapak siapa yang hilang?

Tak lain adalah seorang perempuan yang bernjak dewasa, dia adalah Fitri Nganthi Wani putri dari Widji Thukul, seorang penyair terkenal yang selalu menentang ketidakadilan saat orde baru lewat puisi-puisinya.
Tentu kita tahu sampai saat ini Widji Thukul tidak diketahui dimana keberadaanya, klasik kalau kita bertanya kemudian, andaipun dia mati dimana kuburannya, klo dia masih hidup lantas dimana? Jika dikaitkan dengan kondisi politik saat itu Widji Thukul merupakan korban penghilangan secara paksa yang dilakukan pemerintah Orde Baru. Setelah hilang, istri Widji yaitu Sipon harus mengurus ke dua buah hatinya Fitri serta Fajar Merah.
Peluncuran tersebut dimeriahkan penampil musisi Iwan Fals dan Opie Andaresta, Sitok Srengenge, Neo, semiman PM Toh, serta pembacaan puisi keluarga-keluarga yang juga menjadi korban pelanggaran HAM. Puisi yang ditulis Fitri merupakan cerita-cerita seputar kehidupan pribadi dan lingkungan yang terjadi pasca hilangnya ayahnya hilang.
Sebuah Acara yang cukup meriah, bisa saya bilang seperti itu, karena jarang sekali acara solidaritas untuk mereka yang hilang ataupun meninggal karena kekerasan politik di Negeri ini sampai melibatkan beberapa artis ternama.

Husni K Efendi
Humas Internal JRK

Read More......

Membangun Kesadaran Sejarah untuk Kebenaran dan Keadilan



Sejarah bagi peradaban di setiap negara selalu menjadi rujukan, baik untuk mengenang masa lalu, maupun menjadi pintu pembelajaran agar “masa kelam” yang pernah dilalui tidak terulang lagi, sekaligus sebagai upaya mendorong lahirnya konsep ideal untuk menata kehidupan masa depan yang lebih baik. sebab sejarah adalah ruang belajar yang hidup dan disampaikan apa adanya berdasarkan fakta dan bukti tentang masa lalu.

Untuk mencapai kesana, Negara mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam konteks inilah peran Pendidik atau Guru menjadi penting. Guru tidak hanya merupakan profesi, namun juga pengemban cita–cita negara yang menjadi ujung tombak untuk menecerdaskan kehidupan berbangsa.



Dan tentu saja, kecerdasan bangsa tidak hanya dibangun berdasarkan pengetahuan ilmiah (berdasarkan kemampuan kognitif saja seperti ilmu–ilmu pengetahuan alam) namun juga dibangun oleh pengetahuan sosial terutama nilai–nilai yang berkembang dan dikembangkan dalam kehidupan, atau yang sering disebut dengan life skill atau kecakapan hidup. Dalam hal inilah sejarah berperan penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, masyarakat sampai dengan komunitas paling kecil sekalipun.

Dengan mempelajari dan memperlakukan sejarah secara apa adanya, setidaknya dapat mendorong potensi untuk melahirkan sikap bertanggung jawab, keperpihakan pada kebenaran, kesadaran hukum bahkan sikap politik.

Pada prakteknya implementasi ilustrasi ideal diatas seringkali berhadapan dengan sejumlah hambatan. Diantaranya, adanya keterbatasan materi dan bahan ajar serta keterbatasan guru dalam menerapkan metode dan penyampaian, proses belajar dengan materi dan metode yang telah ditentukan membuat belajar sejarah jauh esensi yang diharapkan dan menjauhkan substansi yang terkandung dalam fakta sejarah itu sendiri. Selain itu, komparasi tentang fakta juga dibatasi sehingga sejarah yang seharusnya disampaikan berdasarkan fakta–fakta yang dapat dipertanggungjawabkan justru menjauhi fakta itu sendiri. Sehingga sejarah sulit merealisasikan kebenaran dan efeknya pembelajaran sejarah menjadi sulit menekankakan nilai–nilai luhur yang dibutuhkan bangsa.
Di sisi lain pelajaran
sejarah masih adalah trade mark mata pelajaran hafalan, yang dari tahun ke tahun tidak berubah dengan sistem dan metode pelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum.
Para siswa masih dibuat sibuk menghafal tanpa memperoleh esensi sejarah itu sendiri, di sisi lain buku-buku sejarah pun masih yang mengalami sensor.






Setidaknya itu yang dibahas dalam
workshop Guru sejarah di wisma PGI 20-30 Mei 2009 dengan Tema ”Membangun Kesadaran Sejarah untuk Kebenaran dan Keadilan”. Workshop ini adalah proses bagaimana sejarah akan tersampaikan dengan apa adanya dengan ujung tombak Guru Sejarah yang sadar itu sendiri.
Menuju pembelajaran sejarah yang berprespektif kebenaran dan keadilan, agar dapat mendorong implementasi ideal arti pembelajaran sejarah.
Yang salah satunya adalah esensi kemanusiaan.


Husni K Efendi
Humas Internal JRK



Read More......

Selasa, 31 Maret 2009

Tentang Fenomena Golput Dan Suara Korban Pelanggaran HAM

(sumber foto:google.com)

Mendekati pemilu sekarang begitu masif partai dan caleg mengkampanyekan apa yang menjadi bahan untuk mereka meniti kursi kekuasaan
Lintas partai seolah kita dihadapkan pada senyuman, dan hidup yang lebih baik dalam kehidupan bernegara.
Tentu sah-sah saja ketika apa yang dilakukan partai kemudian adalah tidak ada ubahnya dengan usaha marketing sebuah produk tujuan agar konsumen membelinya.


Bagaimana indikasi ini muncul ketika substansi dari partai tentang platform kadang menjadi kabur, atau bahkan mungkin tidak ada, karena yang kemudian muncul adalah, sebuah inovasi janji ditambah layout gambar caleg dari mulai yang norak sampai yang kelihatan aneh, dari yang membawa nama keturunan, sampai yang menggunakan bantuan software manipulasi gambar berpose maksa dengan David Beckham atau Obama.
Sampai berita terakhir ketika KPU menyediakan beberapa kamar-kamar di Rumah sakit Jiwa, untuk mengantisipasi Caleg-caleg yang gagal terpilih.


Adalah sebuah alam realita ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik seputar apakah memang dasarnya bodoh masyarakat kita sehingga hanya janji-janji yang terus digulirkan selama masa kampanye dari waktu ke waktu, dan toh mereka juga ikut menikmatinya?
Karena proses pertanyaan tentang poltisi busuk, korup, penjahat Hak Asasi Manusia saat ini sepertinya sudah bukan hal yang aneh dan tidak mempan hanya dengan kita marah.
Yang kadang penyikapan kita menjadi tertawa walaupun getir.
sehingga kemudian dangdut satu paket dengan goyangan artisnya dengan lirik “aku orang termiskin di dunia” menjadi seperti wajib dihadirkan oleh partai dan caleg-calegnya.

Sejenak kemudian kita merenung, dengan fenomena tadi, sebuah inisiasi untuk bagaimana keluar dari proses pembodohan, dan bahkan hak pilih untuk tidak memilihpun harus dihadapkan dengan fatwa Haram ala Majelis Ulama Indonesia. Sungguh binggung kita dibuatnya.

Kalau saja kita menengok tentang apa yang sudah dilakukan korban-korban pelanggaran HAM dari berbagai kasus di negeri ini, dari kasus pembantaian missal 65, Tanjung Priok, Penembakan Misterius, Penembakan Mahasiswa 98, penculikan aktivis, dll

Tentang apa yang mereka lakukan tiap hari kamis sore berdiri diam di depan istana presiden sampai sekarang hingga hitungan ke 100 sekian kali , setara dengan dua tahun lebih, hanya menatap ke tampu kekuasaan yang ada di depan meraka sebuah bangunan putih yang mereka selalu berharap dari situ kasus-kasus mereka ada sedikit kejelasan.

Sampai pada saat mereka berkumpul beberapa minggu lalu di wisma Makara Universitas Indonesia, Depok sekedar bertemu dengan teman senasib se-Indonesia
Prihatin, dalam muara arus untuk ikrar bersama, yang salah satunya tidak memilih politisi, caleg, capres, atau cawapres para pelanggar HAM.

Dari sekian puluh partai yang ada, dari ratusan caleg yang berjanji, dari capres apalagi.
Mereka seperti kehilangan sesuatu untuk mereka yakin memiilih saat ini.
Bukan karena mereka Inkonstitusional, tapi karena keyakinan meraka bahwa mereka tidak menginginkan hal yang sama terjadi lagi dengan Bangsa ini.

Mereka sudah kehilangan anak mereka, mereka sudah kehilangan suami meraka, mereka sudah kehilangan orang tua mereka, mereka sudah kehilangan harapan meraka.
Dan meraka juga tidak menginginkan ini tidak terjadi dengan Rakyat Indonesia lainnya.
Sepertinya mereka juga sudah tidak takut dengan ancaman tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu nanti adalah haram ataupun pengkhianat.

“…terlampau pagi menyebut mereka pemberontak, terlampau dini usia mereka untuk mendobrak. Namun toh justru dalam situasi batas daya kemampuannya, dalam perjuangan mereka yang suntuk, bahkan di ujung ajalnya, mereka merasa perlu menggoreskan pesan, kendati dengan keringat, debu, dan darah…” (Subversi Naratif Kaum Korban Penyintas, I.Sandyawan Sumardi)

Sepertinya ini menjadi penghormatan untuk Parpol, Caleg, Capres, atau Cawapres, bagaiamana agar mereka bisa lebih sedikit berfikir,karena prosesnya kemudian adalah apa yang akan dijawab dari pertanyaan sedih, getir,sakit,dan kecewa meraka, dengan tingkat ketidakpercayaan meraka pada titik klimaks.

Salam…

Husni K Efendi, Staf Humas JRK


Read More......

Minggu, 22 Maret 2009

Tentang Anak Pinggiran, Laskar Pelangi, Dan Slumdog Millionaire


Fenomena suksenya film laskar Pelangi beberapa bulan yang lalu diangkat dari novel laris Andrea Hirata dengan judul yang sama menelisik fakta anak miskin di Belitung tahun 1970-an, realita tentang ketimpangan dunia pendidikan

Begitu antusias masyrakat Indonesia membaca novel atau menonton film Laskar pelangi tersebut, sampai Presiden Republik Negeri ini tidak ketinggalan untuk menonton.
Dari sebuah pemberitaan surat kabar Nasional, seorang Susilo Bambang Yudhoyono pun sampai perlu mempromosikan film ini.

Juga berbagai penghargaan film yang diraih sampai dari Departemen Pendidikan Nasional sendiripun, tidak mau ketinggalan untuk memberikan penghargaan.

Fenomena lain baru-baru ini adalah, kemunculan film Slumdog Millionaire, film garapan sutradara Inggris Danny Boyle & Loveleen Tandan, yang mengambil setting keseluruhan film di India dan bercerita tentang “anak jalanan India” dari kawasan kumuh Mumbai sampai saat ia dewasa dan mengikuti Kuis "Who Wants To Be A Millonaire"dan memenangkannya.
Jamal Malik seorang anak laki-laki kecil tersebut, dengan pengalaman harus melihat ibunya tewas ketika sempat belum dewasa dalam perang saudara di India waktu itu.
Film ini menceritakan kehidupan Jamal Malik secara flashback dimulai dari kehidupan masa kecilnya yang tragis.
Tidak kalah dari laskar pelangi, film ini menyabet piala Oscar.
Seolah kalau menyaksikan kedua film tersebut, kita dibawa dalam alam menyedihkan yang berakhir menyenangkan.
Sayangnya realita di sekitar kita tentang dunia pendidikan ataupun anak jalanan tidak sedemikian halnya seindah dalam film tadi.
Kita bisa menengok dimana kenyataan, anak pinggiran yang terus ingin mengenyam pendidikan walupun sampai harus belajar di bawah kolong tol dan terancam digusur pemerintah kota setempat, (Kompas 12 Februari 2009, Pencerdasan anak Bangsa di bawah kolong Tol)

Pendidikan taman kanak-kanak dengan nama Tunas Bangsa Anak Kolong (TBAK), yang terletak Kampung Baru, Kubur Koja, Penjaringan, Jakarta Utara, persis di bawah kolong jembatan tol Pluit.
Sekolah yang sudah berdiri lebih dari 10 tahun, dengan ancaman gusuran setiap saat masih terus bertahan walaupun tidak jauh dari tempat itu terpampang papan pengumuman:

“Dilarang keras masuk/memanfaatkan lahan rumija tol layang, sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Perda Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum. Sanksi: Pasal 63 UU Nomor 38 Tahun 2004 dihukum 18 bulan penjara dan denda 1,5 miliar rupiah, Bongkar bangunan tanpa ganti rugi".

Di sisi lain musim kampanye setiap partai satu paket dengan caleg dan capresnya seperti tak henti-hentinya berkampanye tentang kesejahteraan, pendidikan murah, dll
Rasa-rasanya mungkin itu tetap terus diperlihara supaya dalam kampanye partai-partai tadi tidak kehilangan bahan orasi politik.Semoga saya salah.
Dan kapan kisah tadi berakhir menyenangkan ala film-film tadi?

Salam..

Husni K Efendi, Staf Humas JRK
Read More......