Foto saya
Sekretariat;
Jl. Bonang No.1A,Menteng
Jakarta Pusat 10320
Tlp : 021 31931181 / 021 44553543
Fax : 021 3913473
E-mail: Jrki@cbn.net.id

Kamis, 26 Februari 2009

Pencerdasan Anak Bangsa dari Bawah Kolong Tol


Kamis, 12 Februari 2009
kompas.com
TERIK matahari sedang menghujam tepat di atas ubun-ubun. Namun, pejabat dari Pemerintah Kota Jakarta Utara beserta sejumlah bodyguard tak menghiraukannya. Mereka duduk dengan raut muka tegang di warung milik Paulus Madur. Dari gerak tubuhnya, terlihat benar kalau mereka sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Kapan sekolah ini dibongkar," kata salah satu dari mereka begitu Paulus muncul. Ternyata Paulus, sang pemilik warung yang mereka tunggu. Bukan warung, tapi sekolah yang digugat oleh para pejabat itu. Tepat di sisi warung terdapat ruang kelas untuk pendidikan taman kanak-kanak dengan nama Tunas Bangsa Anak Kolong (TBAK). Paulus adalah pendiri sekolah tersebut.
“Apa? Dengar Pak, jika saya membongkar sekolah ini, itu sama saja saya mengkhianati anak bangsa!” kata Paulus dengan suara meninggi.

“Kamu tahu ini tanah siapa?” kembali si pejabat itu mendesak Paulus.

“Saya tahu Pak. Ini adalah tanah negara, dan saya juga tahu dan sangat sadar bahwa saya adalah anak negara,” tutur Paulus tetap dengan nada tinggi.

Tanpa sadar, dialog mereka di depan warung itu disaksikan beberapa penduduk. Ujungnya, bangunan-bangunan di kawasan itu harus dibongkar.
“Pak Paulus, kapan alat berat datang untuk membongkar sekolah ini? Kami mau mati di dalam sekolah ini!” teriak salah satu dari ibu wali murid.

Pekik sang ibu tersebut membuat wajah si pejabat memerah malu. Dengan nada rendah, akhirnya pejabat itu menuliskan keterangan pada selembar kertas “Tempat ini adalah sarana umum.” Artinya sekolah TBAK tidak ikut digusur.

Peristiwa di tengah hari pada bulan Mei 1997 itu menjadi awal perjuangan panjang TK TBAK yang terletak Kampung Baru, Kubur Koja, Penjaringan, Jakarta Utara, persis di bawah kolong jembatan tol Pluit. Hingga hari ini sekolah itu masih berdiri di atas lahan yang kiri dan kanannya adalah puing-puing bongkaran.
***
Perjalanan menuju sekolah TBAK berliku. Jalan sempit berkelok yang padat penduduk harus ditempuh. Bau busuk dari selokan yang menggenang kerap tercampur dengan embusan aroma bumbu masak dari dapur-dapur sempit dan pengap. Teriak dan tangis anak-anak menjadi lagu khas keseharian penduduk di sana. Namun, ada satu bangunan menyendiri yang ramai. Beberapa ibu berdiri di jendela, mengintip aktivitas yang terjadi di dalam bangunan itu.

Di bangunan itulah sekolah rakyat itu berdiri. Hari itu memang banyak murid yang tidak datang karena Muara Baru, wilayah yang letaknya sekitar tiga kilometer dari sekolah itu, banjir air pasang. Selain dari Muara Baru, sebagian kecil murid sekolah TBAK tinggal di sekitar sekolah, di Batang, Tanah Pasir, Teluk Gong, Terading, yang radiusnya tak lebih dari lima kilometer. Wilayah ini adalah kantong-kantong penduduk miskin di Jakarta Utara.
“Saya tidak begitu saja membangun sekolah ini,” kata Paulus yang lahir di Pagal Flores, 29 Juni 1935. Dia menuturkan, pada tahun 1995 ada seorang pastor yang mengunjunginya. Dia menangis setelah melihat realitas kemiskinan di tempat itu. Ada nenek yang terpaksa tidur di kolong tol beralaskan plastik atau kardus. Anak-anak jauh dari pendidikan dan kesehatan, serta lingkungan kumuh yang dihuni sekitar 3.200 KK. “Nenek (untuk menyebut kakek) mau berbuat apa pada mereka?” tanya pastor tersebut pada Paulus. Dihantam dengan pertanyaan itu, Paulus diam tak menjawab.

Tidak lama kemudian, Paulus yang beristri Maria Catharina Dariah menerima tamu yang bernama Claudia. Ia adalah seorang biarawati yang menginap selama 2 minggu. Claudia berkeliling ke lingkungan kumuh kolong untuk membantu bekerja, mencari, dan memisahkan sampah atau sekadar ngobrol dengan penduduk.
“Kok bisa-bisanya suster yang berpakaian suster dan bukan penduduk sini mau melakukan hal itu. Sedangkan saya yang tinggal di sini tidak berbuat apa pun,” kata Paulus menggugat.

Akhirnya, pada Maret 1995 Paulus membeli tanah seluas 5 x 10 meter di bawah kolong tol seharga Rp 1 juta. Inilah bangunan pertama Sekolah TBAK. “Pada hari pertama muridnya 23 orang, hari kedua jadi 54 orang, dan akhirnya mencapai 150 orang. Waktu belajarnya dari jam 07.30-17.00. Ada volunteer yang membatu dari beberapa instansi,” kata Paulus yang memiliki latar belakang sekolah menengah teknik ini.

“Selain ngajarin anak usia sekolah dia juga mengajari bengkel dan ngelas bagi angkatan kerja. Sekarang anak didik di sini bisa membuka bengkel dan bekerja di perusahan sebagai tukang las,” ujarnya bangga.

Baru pada September 1998 Paulus membangun Sekolah TBAK yang kini berdiri. Bangunan tersebut terdiri dari 3 ruangan, yakni ruang kelas berukuran 4 x 8 m, warung tempat Paulus menghidupi keluarganya, dan sekolah plus gudang berukuran 8 x 3 m. Ada pula ruang kelas plus ruang jahit berukuran 4 x 6 m. Paulus nekat mendirikan sekolah ini karena mengaku terpanggil untuk mencerdaskan anak bangsa.
“Penduduk di sini sangat miskin sebagaimana Anda lihat. Selain itu, ada banyak anak TK atau SD kelas 2 atau 3 yang terpaksa keluar karena tidak kuat membiayai,” kata Paulus lirih.
“Untuk itulah dari awal berdirinya sampai tahun 2006 semuanya gratis, uang masuk, SPP, buku, alat tulis, tas, seragam. Namun sejak tahun 2006, kami menerapkan uang SPP sebesar Rp 20.000 tanpa uang pendaftaran. Untuk seragam diangsur. SPP tersebut untuk membantu seragam bagi yang tidak mampu membayar SPP, kelebihannya untuk membayar seorang ibu yang membersihkan 3 lokal sekolah sebesar Rp 250.000 sebulan. Alat tulis dan tas beli sendiri,” kata Paulus.

“Sebenarnya saya agak berat. Saya sudah ‘susah napas’. Tiap tahun pasti saya nombok, terakhir tahun ajaran 2007/2008 saya nombok Rp 700.000. Itu belum termasuk biaya listrik,” kata Paulus yang mengaku bahwa kebijakan harga tadi diambil bersama para orangtua murid.

***

Setiap tindakan untuk tujuan mulia tidak selamanya mendapat dukungan. Ada saja aral yang menghambat. Selain sekolahnya pernah akan digusur, Paulus mengaku dua kali diancam akan dipenggal oleh sekolompok orang. “Bubarkan sekolah ini, kalau tidak kepalamu dan keluargamu akan terpisah dari tubuh,” kata Paulus menirukan kata-kata orang yang mengancam dirinya.
Sekolahnya juga pernah dihujani batu hingga bocor. Hal itu terjadi karena isu SARA. Sampai-sampai, menurut Paulus, ada mantan menteri agama datang untuk mengonfirmasi hal tersebut. “Saya tidak membawa agama, tetapi saya membawa cinta saya pada anak bangsa,” kata Paulus kala itu.
Dengan kesabaran, segala masalah itu berlalu, dan keberadaan sekolah ini kian diterima masyarakat sekitar.

***

Saat ini Paulus berusia 74 tahun. Bukanlah umur yang muda lagi. Erna, anak tunggal Paulus, setelah menikah tidak tahu apakah akan tetap di Sekolah TBAK. Sampai kapan biaya operasional yang sangat tinggi hanya ditanggung oleh Paulus dan keluarganya. Masa depan sekolah ini semakin “terancam”.
Tak hanya karena beban biaya operasional, sebuah papan pengumuman kini telah terpasang kokoh. Di dalamnya bertuliskan, “Dilarang keras masuk/memanfaatkan lahan rumija tol layang, sesuai dengan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Perda Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum. Sanksi: Pasal 63 UU Nomor 38 Tahun 2004 dihukum 18 bulan penjara dan denda 1,5 miliar rupiah, Bongkar bangunan tanpa ganti rugi".

Beratnya beban di sekolah kolong tol Pluit ini pantas menjadi potret terpuruknya dunia pendidikan di Tanah Air, yang juga pantas mengusik hati lebih banyak orang untuk menyelamatkan tunas-tunas penerus bangsa ini....

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/02/12/09470598/pencerdasan.anak.bangsa.dari.bawah.kolong.tol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar